Kesenian Kuda Lumping Upaya Pelestarian Budaya

Kesenian Kuda Lumping Upaya Pelestarian Budaya

Oleh : Ellysa Purwaningsih, S. Pd

 

Indonesia sangat kaya akan budaya, dari sabang sampai merauke terdapat ras dan suku bangsa yang memiliki budaya tersendiri. Perbedaan inilah yang menyebabkan negara Indonesia kaya akan kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil karya manusia dalam mempertahankan serta meningkatkan taraf hidup, juga sebagai proses adaptasi lingkungan. Kebudayaan memiliki sifat dinamis atau selalu berubah-ubah. Tidak ada kebudayaan yang tidak mengalami perubahan secara mutlak, artinya bagaimanapun keadaanya kebudayaan selalu mengalami perubahan

Salah satu bentuk kebudayaan adalah kesenian. Kesenian yaitu bagian dari kebudayaan dan merupakan sarana yang digunakan untuk mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Banyak kesenian jaman dahulu yang masih dilestarikan, namun banyak juga kesenian yang hilang akibat tidak adanya generasi penerus yang tidak mau melestarikannya. Berbagai bentuk kesenian daerah tersebar di seluruh pelosok negeri Indonesia. Kesenian daerah yang tersebar di Indonesia, khususnya didaerah Jawa seperti kuda lumping, sisingaan, angklung, wayang golek, kuda renggong, dan lain-lain, merupakan warisan budaya dari leluhur bangsa Indonesia.

Kuda lumping adalah kesenian yang menggabungkan seni tari (tari yang di mainkan dengan menggunakan properti kuda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu) dan seni musik serta mengandung unsur magic. Kuda lumping biasanya dimainkan oleh 50 sampai 60 orang pemain, yang terbagi kedalam beberapa peran, diantaranya dukun/pawang, penari, sinden, pendamping, dan barongan. Namun bebrpa kali dalam pementasan, peran sinden masih diambil dari group dari luar karena keterbatasan anggota.

Kesenian kuda lumping masih menjadi sebuah pertunjukan yang cukup membuat hati para penontonnya terpikat. Walaupun peninggalan budaya ini keberadaannya mulai bersaing ketat oleh masuknya budaya dan kesenian asing ke tanah air, tarian tersebut masih memperlihatkan daya tarik yang tinggi.

Sudah bukan rahasia lagi apabila kesenian tradisional di Indonesia mulai ditinggalkan generasi muda negeri ini, dan masuknya berbagai kebudayaan luar melalui berbagai media, terutama televisi, tidak sedikit ikut mempengaruhi kelunturan apresiasi terhadap kesenian tradisional. Saat ini banyak anak-anak muda kurang mengenal kesenian tradisional.

Di masa sekarang ataupun masa yang akan datang tanggungjawab untuk mengembangkan dan melestarikan warisan leluhur tersebut bukan lagi ditentukan sepenuhnya oleh pemerintah, tetapi oleh masyarakat, dalam hal ini mereka para pelaku seni, pecinta seni, pekerja seni dan pemerhati seni serta lainnya agar kesenian dan budaya tersebut tidak hilang atau musnah di telan zaman. Terlebih lagi saat ini, budaya barat dan modernisasi merupakan konsumsi sehari-hari anak-anak muda. Akibatnya kesenian dan budaya sendiri dianggap tidak nge-trend dan terkesan kuno, sehingga generasi penerus tidak mau menggelutinya bahkan mereka sudah tidak lagi mengenal budaya sendiri.

Kesenian tradisional kuda lumping di Desa Tamanrejo Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal  dengan nama “Eko kapti turangga seto“ masih tetap digemari oleh kalangan masyarakat, hal ini dikarenakan kesenian kuda lumping hadir dalam bentuk kesenian yang dapat menghibur dan menyenangkan semua lapisan masyarakat dalam pementasannya. Unsur magic sangat berpengaruh besar dalam kecintaaan masyarakat untuk menikmati kesenian ini.

“Kesenian kuda lumping di Desa Tamanrejo telah lahir sejak tahun 2004.

Kesenian kuda lumping ini sempat vakum dan diaktifkan kembali dengan para pemainnya yang mayoritas berusia muda, bahkan anak-anakpun mengikuti setiap sesi Latihan yang dilakukan oleh para pemain kuda lumping, dan melakukan pengembangan-pengembangan yang kreatif dan inovatif mengikuti perkembangan zaman.

Yang memberi nama paguyuban eko kapti Turangga Seto adalah seorang tokoh desa Tamanrejo yang sudah meninggal dunia, yaitu bapak Solar. Paguyuban ini berdiri dibawah naungan karangtaruna desa Tamanrejo. Mereka juga sudah memiliki chanel youtube dengan nama “Satrio Legi”

Urutan tarian kuda lumping “Eko Kapti Turangga Seta”:

  1. Pembukaa
  2. Jingkraan
  3. Sembahan
  4. Jejogetan
  5. Rampak
  6. Kiprah
  7. Penutup (Ndadi)

Kesenian kuda lumping ini diaktifkan kembali agar didesa ini ada sebuah wadah untuk menyalurkan jiwa seni dari masyarakat Desa Tamanrejo dan mewariskan budaya ke generasi muda secara berkelanjutan agar tetap terjaga kelestariannya.

Setelah bangkit dari kevakuman kesenian kuda lumping ini tidak  hanya melakukan pertunjukan di desa Tamanrejo namun melakukan pertunjukan di daerah lain, tarif untuk memakai jasa kesenian kuda lumping satu kali tampil yaitu sebesar 2 juta rupiah, apabila yang mengundang ikut dalam kelompok kuda lumping hanya membayar uang kas sebesar 500 ribu rupiah.

 

Referensi :

Darini, Ririn. 2013. Sejarah Kebudayaan Indonesia Masa Hindu Budha. Yogyakarta: Ombak

Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana

Rafiek, M. 2012. Ilmu Sosial & Budaya Dasar. Yogyakarta: Aswaja Pressindo

Ranjabar, Jacobus. 2014. Sistem Sosial Budaya Indonesia Suatu Pengantar. Bandung: Alfabeta

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *